Pertahanan negara kepulauan terbesar di dunia menuntut Angkatan Bersenjata Nasional (TNI) memiliki kekuatan yang mampu menjaga kedaulatan di darat, laut, dan udara. Dalam dua dekade terakhir, fokus utama pembangunan kekuatan TNI adalah melalui Analisis Modernisasi Alutsista dan pencapaian target Minimum Essential Force (MEF). MEF, yang dicanangkan sebagai cetak biru pembangunan kekuatan militer Indonesia, bertujuan untuk memenuhi kekuatan pokok minimum yang diperlukan untuk mencegah dan mengatasi ancaman terhadap kedaulatan negara. Analisis Modernisasi Alutsista ini bukan sekadar penggantian peralatan lama, tetapi transformasi mendalam menuju kapabilitas pertahanan yang interoperabel dan berbasis teknologi tinggi, mengacu pada kondisi geopolitik regional.
Program MEF sendiri dibagi menjadi tiga Rencana Strategis (Renstra) dengan target penyelesaian akhir pada tahun 2024. Meskipun tantangan anggaran dan kendala pengadaan menghambat tercapainya 100% target di setiap Renstra, kemajuan yang dicapai signifikan. Dalam Renstra MEF II (2015–2019), Angkatan Laut (TNI AL) berhasil mengakuisisi kapal selam KRI Alugoro-405, yang merupakan kapal selam ketiga kelas Changbogo, sekaligus menandai dimulainya perakitan kapal selam di galangan kapal dalam negeri, PT PAL, di Surabaya. Pengadaan ini vital untuk memperkuat kemampuan deterrence (penangkal) di perairan strategis seperti Laut Natuna Utara.
Di sisi Angkatan Udara (TNI AU), Analisis Modernisasi Alutsista menekankan pada peremajaan jet tempur dan sistem radar. Meskipun rencana awal mencakup pengadaan jet tempur generasi 4.5, fokus saat ini bergeser pada peningkatan kemampuan platform yang sudah ada sambil menunggu pengadaan skala besar. Salah satu pembelian penting adalah sistem radar mutakhir yang ditempatkan di wilayah timur Indonesia pada tahun 2023, yang secara dramatis meningkatkan kemampuan pengawasan udara terhadap pergerakan pesawat asing.
Sementara itu, Angkatan Darat (TNI AD) memprioritaskan mobilitas dan daya tembak. Akuisisi Main Battle Tank (MBT) Leopard 2 dan sejumlah kendaraan tempur infanteri Marder dari Jerman menjadi tulang punggung kekuatan darat, memungkinkan pergerakan pasukan yang cepat dan terlindungi dalam operasi darat. Namun, tantangan terbesar dalam Analisis Modernisasi Alutsista adalah sustainabilitas. Membeli sistem senjata canggih adalah satu hal; mempertahankan, memperbaiki, dan memastikan ketersediaan suku cadang serta pelatihan personel (operator dan teknisi) adalah tantangan yang jauh lebih besar. Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan telah mengalokasikan sekitar 35% dari anggaran pertahanan tahunan untuk pos pemeliharaan dan perawatan (Harwat), yang merupakan langkah strategis menuju kemandirian alutsista. Mewujudkan MEF adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan komitmen fiskal jangka panjang dan perencanaan yang matang.