Komando Pasukan Khusus (Kopassus) adalah unit militer paling disegani di Indonesia, dikenal dengan julukan Baret Merah. Mereka adalah garda terdepan negara dalam operasi khusus, anti-teror, intelijen, dan perang non-konvensional. Kopassus merupakan simbol kekuatan dan ketangguhan Indonesia, diakui sebagai Pasukan Elite Merah Putih yang memiliki standar pelatihan di atas rata-rata unit reguler TNI Angkatan Darat. Sejarah pembentukan Kopassus berawal pada 16 April 1952, didorong oleh kebutuhan mendesak akan unit yang mampu melakukan operasi khusus dalam menghadapi pemberontakan pasca-kemerdekaan, menjadikannya salah satu unit komando tertua di kawasan Asia Tenggara. Kewaspadaan dan kesiapan tempur Pasukan Elite Merah Putih ini adalah kunci utama dalam menjaga stabilitas keamanan nasional.

Proses untuk menjadi prajurit Kopassus bukanlah hal yang mudah; ini adalah salah satu kurikulum militer terberat di dunia. Calon prajurit harus melewati pendidikan komando yang berlangsung selama kurang lebih tujuh bulan, terbagi menjadi beberapa tahapan krusial. Tahap pertama adalah Tahap Dasar Komando, yang berfokus pada pelatihan fisik, keterampilan dasar tempur, dan penguasaan medan. Prajurit ditempa melalui lari jarak jauh, long march dengan beban penuh, dan latihan ketahanan mental. Tahap ini bertujuan untuk menghancurkan ego individu dan membangun mentalitas tim yang kokoh. Menurut data Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) di Batujajar, Jawa Barat, pada angkatan pendidikan September 2024, tingkat kegagalan (drop out rate) dalam tiga bulan pertama pelatihan mencapai lebih dari 65%.


Tahap kedua adalah Tahap Hutan dan Gunung (Hutan Gunung), di mana prajurit dilatih untuk bertahan hidup di lingkungan paling ekstrem. Latihan ini mencakup navigasi darat tanpa alat bantu modern, teknik survival (mencari makan dan minum dari alam liar), serta taktik pertempuran di lingkungan yang padat dan terjal. Tahap ini sering diakhiri dengan simulasi di hutan-hutan lebat yang menguji keterampilan bertahan hidup di bawah tekanan musuh. Salah satu tantangan terberat dalam Tahap Hutan Gunung adalah Latihan Survival Mandiri, di mana prajurit ditinggalkan tanpa perbekalan selama beberapa hari.

Tahap ketiga dan paling terkenal adalah Tahap Rawa Laut, yang diselenggarakan di area pantai dan perairan. Prajurit Kopassus ditempa untuk menguasai infiltrasi melalui laut dan rawa-rawa, termasuk teknik menyelam tempur dan escape & evasion (meloloskan diri dan menghindari tangkapan). Puncak dari pelatihan ini adalah wing day, di mana prajurit secara resmi diterima sebagai Pasukan Elite Merah Putih dan berhak mengenakan Baret Merah.


Kopassus telah terlibat dalam berbagai misi rahasia dan operasi penanggulangan terorisme yang mengukir sejarah. Salah satu misi paling heroik yang melibatkan Kopassus adalah operasi pembebasan sandera pesawat Garuda Indonesia Penerbangan 206 yang dibajak di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, pada 31 Maret 1981. Dalam waktu singkat dan dengan risiko tinggi, unit komando berhasil melumpuhkan para pembajak dan membebaskan sandera dengan presisi yang diakui dunia internasional. Kecepatan dan keberanian dalam menjalankan operasi ini menjadi bukti nyata kesiapan Pasukan Elite Merah Putih dalam menghadapi ancaman terorisme lintas batas. Keputusan untuk melakukan operasi tersebut diambil oleh Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf pada Senin, 30 Maret 1981, menunjukkan tingkat kepercayaan tertinggi negara terhadap kemampuan unit ini. Kopassus, dengan disiplin besi dan pelatihan yang brutal, akan terus menjadi pilar pertahanan utama Indonesia.