Tugas utama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) bukan hanya menjaga kedaulatan udara, tetapi juga memberikan dukungan superioritas udara dan bantuan tembakan ke pasukan darat. Oleh karena itu, penting bagi setiap prajurit dan pilot untuk menguasai program integrasi Matra TNI AU yang melibatkan koordinasi presisi tinggi. Latihan tempur udara dan darat yang kompleks ini dirancang untuk memastikan bahwa elemen udara dan elemen darat dapat beroperasi sebagai satu kesatuan yang kohesif dalam skenario pertempuran nyata. Baru-baru ini, pada hari Rabu, 19 November 2025, Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas) menyelenggarakan Latihan Gabungan (Latgab) Trisula Perkasa di Lanud Iswahjudi, Madiun, yang berfokus pada peningkatan kemampuan Joint Terminal Attack Controller (JTAC). Artikel ini akan membahas komponen utama dari program latihan integrasi ini.


Kebutuhan akan Close Air Support (CAS)

Salah satu tujuan utama dari latihan tempur udara dan darat adalah untuk mengasah kemampuan Close Air Support (CAS), yaitu dukungan tembakan udara jarak dekat yang diberikan oleh pesawat tempur kepada pasukan di darat yang sedang terlibat kontak langsung dengan musuh. CAS adalah operasi berisiko tinggi yang membutuhkan komunikasi tanpa cela antara pilot dan petugas pengendali di lapangan. Jika komunikasi gagal, risiko friendly fire (serangan ke rekan sendiri) sangat tinggi.

Komponen Kunci 1: Joint Terminal Attack Controller (JTAC)

JTAC adalah petugas khusus Angkatan Udara (terkadang dari Matra lain) yang berada di garis depan bersama pasukan darat. Mereka adalah mata dan telinga pilot di udara. Program integrasi Matra TNI AU sangat menekankan pelatihan JTAC, yang mencakup:

  • Identifikasi Target: Kemampuan mengidentifikasi dan memverifikasi target musuh dalam kondisi pertempuran yang kacau.
  • Komunikasi Presisi: Mengirimkan koordinat dan instruksi serangan yang tepat kepada pilot, menggunakan protokol radio yang ketat dan sandi-sandi yang disepakati.

Latihan JTAC biasanya menggunakan simulasi atau latihan tembakan langsung, di mana pesawat F-16 atau T-50i beraksi di atas medan latihan, dipandu oleh JTAC di bawah.

Komponen Kunci 2: Airdrop dan Air Assault

Integrasi tidak hanya tentang tembakan, tetapi juga logistik dan mobilitas. Airdrop (penjatuhan logistik) dan Air Assault (serangan udara, biasanya menggunakan helikopter untuk mengangkut pasukan) adalah bagian penting dari latihan tempur udara dan darat.

  • Latihan Airdrop: Menggunakan pesawat C-130 Hercules, prajurit dilatih untuk menjatuhkan personel (Static Line Parachute) atau kargo dengan akurasi tinggi di zona pendaratan (Drop Zone).
  • Latihan Air Assault: Melatih koordinasi antara helikopter serbu (misalnya, AH-64 Apache, jika digunakan dalam latihan gabungan) dan pasukan khusus yang didaratkan untuk operasi mendadak.

Keberhasilan operasi ini menjamin bahwa pasukan darat dapat menerima pasokan dan bala bantuan dengan cepat, terlepas dari kondisi geografis yang sulit.

Komponen Kunci 3: Pertahanan Pangkalan Udara

Sebagai Matra yang berbasis di darat (Home Base), program integrasi Matra TNI AU juga mencakup pertahanan pangkalan udara (Lanud) dari serangan musuh darat. Personel Paskhas (Pasukan Khas) TNI AU dilatih untuk melindungi aset udara dan instalasi strategis, bekerja sama dengan elemen udara. Latihan ini sering diakhiri dengan simulasi pengamanan Lanud setelah serangan teroris atau musuh.