Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia berada pada posisi geografis yang sangat strategis, menjadi poros maritim dunia. Namun, posisi ini juga membawa kerentanan besar, terutama pada tujuh selat utama yang menjadi choke points atau jalur pelayaran internasional tersibuk, termasuk Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok. Oleh karena itu, penerapan Strategi Pertahanan kepulauan yang efektif dan terintegrasi adalah mandat utama TNI, khususnya TNI Angkatan Laut. Strategi Pertahanan ini harus mampu mengatasi ancaman tradisional (pelanggaran kedaulatan) dan ancaman non-tradisional (penyelundupan dan terorisme maritim) secara simultan.

Tujuh selat kritis ini merupakan jalur perdagangan vital, sehingga pengamanan mereka harus melibatkan sistem pengawasan dan reaksi cepat yang berlapis. Strategi Pertahanan TNI-AL berfokus pada pembangunan sistem Maritime Domain Awareness (MDA) yang canggih. Ini melibatkan pemasangan radar canggih di titik-titik strategis (misalnya di Pulau Rondo di ujung Aceh pada tahun 2024), dikombinasikan dengan patroli udara menggunakan pesawat intai maritim (seperti CN-235 MPA). Data yang dikumpulkan dari sistem MDA ini disalurkan ke Pusat Komando Armada I yang beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, memungkinkan identifikasi dini kapal asing yang memasuki wilayah terlarang tanpa izin.

Selain pengawasan pasif, Strategi Pertahanan juga memerlukan kemampuan intervensi yang cepat dan tegas. Armada TNI-AL ditempatkan secara pre-positioned di beberapa Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) yang berdekatan dengan selat-selat tersebut, seperti di Tanjung Pinang (dekat Selat Malaka) dan Benoa (dekat Selat Lombok). Unit-unit khusus seperti Kopaska (Komando Pasukan Katak) menjalani Teknik Latihan yang intensif untuk skenario anti-boarding dan penanggulangan terorisme maritim di area sempit.

Untuk mengatasi ancaman grey-zone seperti penangkapan ikan ilegal (Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing), TNI bekerja sama erat dengan Badan Keamanan Laut (Bakamla) dan Polisi Perairan (Polair). Dalam sebuah insiden yang dilaporkan pada 15 Oktober 2025, kapal patroli TNI-AL berhasil mencegat kapal ikan asing yang mencoba melarikan diri dari Selat Malaka setelah beroperasi secara ilegal, menunjukkan koordinasi antar-aparat yang efektif. Melalui modernisasi Alutsista (seperti penambahan Kapal Cepat Rudal) yang menjadi bagian dari Minimum Essential Force, Indonesia memperkuat kehadiran fisiknya, memastikan bahwa Strategi Pertahanan kepulauan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif dan dominatif di jalur lautnya sendiri.