Dalam pelatihan militer Tentara Nasional Indonesia (TNI), lari bukanlah sekadar aktivitas individu untuk mengukur daya tahan. Ketika dilakukan dalam formasi kelompok yang ketat (berlari bersama), ia bertransformasi menjadi alat taktis yang vital untuk Membangun Kohesi tim dan memperkuat rantai komando. Sesi bina fisik (Binsik) ini mewajibkan seluruh anggota regu bergerak sebagai satu kesatuan, menjaga jarak dan kecepatan yang seragam, di bawah perintah langsung dari komandan. Filosofi di balik lari formasi ini sangat mendasar: jika tim tidak mampu menjaga formasi yang disiplin saat berlari, mereka akan gagal menjaga formasi yang disiplin saat berada dalam operasi tempur di bawah tekanan.
Proses Membangun Kohesi dimulai dari sinkronisasi langkah. Seluruh prajurit harus menyesuaikan langkah mereka dengan irama yang diberikan oleh komandan. Latihan ini menuntut perhatian penuh dan pengorbanan kecepatan individu demi kepentingan kelompok. Jika ada satu prajurit yang kelelahan atau lambat, formasi akan pecah, dan seluruh regu akan dihukum (misalnya, dengan push-up tambahan). Ini menciptakan rasa tanggung jawab kolektif yang kuat; setiap prajurit tahu bahwa kinerja mereka memengaruhi semua rekannya. Latihan lari formasi ini rutin dilakukan setiap hari Jumat pagi, pukul 06.00 WIB, di lingkungan Resimen Induk Kodam (Rindam).
Selain itu, lari formasi adalah sarana utama untuk melatih komando dan kendali. Komandan regu harus memimpin dari depan, menetapkan kecepatan, dan memberikan perintah verbal yang jelas dan tegas untuk perubahan kecepatan atau arah. Prajurit harus belajar mematuhi perintah ini secara instan, bahkan saat kelelahan fisik mencapai puncaknya. Kepatuhan seketika ini sangat penting untuk Membangun Kohesi dalam situasi taktis di medan tempur, di mana keputusan sepersekian detik dari komandan dapat menentukan nasib seluruh regu. Latihan ini juga memberikan komandan kesempatan untuk menilai tingkat kebugaran dan ketahanan mental setiap anggota regu secara real-time.
Ketika Membangun Kohesi tim berhasil dicapai melalui Binsik bersama, hasilnya adalah kepercayaan diri yang mendalam antar anggota tim. Setiap prajurit tahu bahwa rekan-rekannya memiliki stamina yang sama, disiplin yang sama, dan komitmen yang sama. Kepercayaan ini meluas ke luar lapangan latihan; jika seorang prajurit dapat mempercayai rekannya untuk mempertahankan kecepatan dan formasi saat lari, ia juga akan mempercayai rekannya untuk menjaga punggungnya dalam situasi operasional yang berbahaya. Pada akhirnya, lari formasi bukan tentang mencapai garis akhir secepat mungkin, tetapi tentang mencapai garis akhir bersama-sama dan dalam keadaan siap.